2015-02-06

Kontribusi Tepung Terigu

Kontribusi Tepung Terigu Sebagai Sumber Pangan Alternatif NON Beras


Persoalan impor beras masih mengandung perdebatan. Sebagaimana kita ketahui beras di Indonesia bukanlah semata-mata merupakan komoditas pangan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, tetapi lebih dari itu, ia telah menjadi komoditas yang dapat mempengaruhi stabilitas negara.
Indonesia lebih menggantungkan kebutuhan makanan pokok pada beras, padahal banyak sekali pangan pokok selain beras. Wilayah Indonesia mempunyai jenis pangan pokok yang beragam. Hal ini disebabkan karena wilayah Indonesia sangat luas dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda sehingga sumber pangan pokoknya pun sangat beragam. Sebelum mengenal beras, masyarakat Indonesia mengkonsumsi makanan pokok yang berbeda-beda sesuai dengan bahan-bahan pangan yang terdapat di wilayahnya masing-masing.

Setiap bangsa di dunia mendambakan kemajuan dan kemakmuran. Banyak faktor yang menentukan kemajuan dan kemakmuran sebuah bangsa yaitu sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA).

Ketika mendengar kata nasi, asosiasi kita langsung ke beras, dan itu pasti berasal dari padi. Makanpun kalau tidak dengan nasi serasa belum makan. Panganan lain, umbi-umbian, terigu, sagu, jagung, misalnya dipandang sebagai makanan ringan/cemilan.
Mengartikan pangan identik dengan beras sesungguhnya telah mengecoh kita. Sejarah Indonesia mencatat sagu, jagung, singkong, talas dan ubi jalar dijadikan makanan pokok warga selama bertahun-tahun. Kemajuan dibidang ekonomi dan teknologi yang dibarengi dengan perbaikan kesejahteraan telah menyebabkan pola makan mengkristal pada beras.
Perubahan beras menjadi menu favorit itu telah membuat pemerintah berada pada posisi yang serba sulit. Sebab, pemerintah, mau atau tidak mau, suka tidak suka, harus siap menyediakan beras dalam jumlah yang cukup, baik dimusim panen maupun paceklik.
Makanan dikatakan pokok jika mencukupi kebutuhan gizi dasar, yaitu kalori. Makanan pokok tidak menyediakan keseluruhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, oleh karena itu makanan pokok biasanya dilengkapi dengan lauk pauk untuk memebuhi nutrisi seseorang. Kebutuhan kalori terutama dipenuhi dari karbohidrat. Setiap gram karbohidrat menghasilkan 4 kalori energi pangan yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan pada umumnya berasal dari tanaman yang biasanya digunakan sebagai makanan pokok. Masyarakat Indonesia sampai saat ini bergantung pada satu jenis makanan pokok yaitu beras yang diolah menjadi nasi. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk memperkenalkan kembali penggunaan bahan-bahan pangan alternatif non beras. Sehingga ketergantungan kepada beras lambat laun akan berkurang.
Kenapa pemerintah tidak mencoba menggalakkan kembali makanan pokok asli Indonesia (jagung, singkong, ubi kayu, sagu, sukun) dioloh menjadi tepung (seperti tepung terigu), karena keunggulan tepung antara lain. Pertama, tepung praktis penggunaannya. Dari tepung, bisa diproduksi puluhan aneka makanan bercita rasa tinggi, seperti mi instant, kue hingga panganan yang lainnya. Kedua, Tepung selain praktis juga tahan lama dalam penyimpanan. Ketiga teknologi pengolahan tepung mudah dikuasai dengan biaya murah. Keempat, tepung mudah diperkaya dengan nutrisi tambahan. Kelima, masyarakat sudah terbiasa mengkonsumsi makanan dari tepung.
Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Definisi ketahanan pangan pada Undang-undang tersebut berbunyi “ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman merata dan terjangkau”. Dimensi yang terkandung dalam pengertian ketahanan pangan mencakup dimensi fisik pangan (ketersediaan), dimensi ekonomi (daya beli), dimensi kebutuhan gizi individu (dimensi gizi), dimensi waktu (setiap saat), dimensi keamanan pangan (kesehatan) dan dimensi sosial budaya.
Untuk itu masyarakat di pedesaan perlu diajak mengembangkan potensi pangan non beras berbasis sumber daya lokal guna mengurangi ketergantungan pada bantuan pangan saat terjadi bencana. Roti, martabak, mie dan makanan yang lainnya yang ternyata bisa menggantikan nasi telah disukai oleh masyarakat sampai kepedesaan, namun perlu diingat sumber karbohidrat lainnya harus dikembangkan (karena terigu sebagai bahan baku roti, mie dan panganan yang lainnya didapat dari impor). Sumber bahan karbohidrat lokal seperti ubi jalar, singkong, sukun, dan jagung sebagai salah satu alternatif menurut beberapa penelitian patut dikembangkan.
Dengan mengkonsumsi pangan yang lebih beragam, bergizi, dan dengan kandungan nutrisi berimbang, maka kualitas kesehatan akan semakin baik. Hasilnya konsumsi beras perkapita diharapkan menurun. Apabila upaya-upaya tersebut di atas berhasil dilakukan maka harapan kita untuk meningkatkan produk pangan non beras akan tercapai. Begitu juga konsumsi beras perkapita akan menurun, kualitas konsumsi pangan masyarakat akan semakin beragam, bergizi dan berimbang. Dengan demikian pada akhirnya ketahanan pangan masyarakat Indonesia akan semakin mantap.
Untuk meningkatkan ketahanan pangan kita perlu mencari solusi alternatif pangan lokal penganti beras guna mencukupi kebutuhan konsumsi penduduk, yaitu dengan diversifikasi pangan seperti singkong, jagung, sagu, ubi kayu, gandum. Untuk itu perlu memberdayakan petani dipedesaan untuk mengembangkan tanaman tersebut sebagai alternatif pangan lokal. Untuk mewujudkan itu, diperlukan perhatian serius dari pemerintah. Antara lain berupa bantuan teknologi pascapanen, penyediaan bibit berkualitas, teknologi pengolahan pangan, penyediaan infrastruktur gudang, penjaminan pasar, dan promosi serta pemberdayaan petani dan juga diperlukan sistem penyuluhan yang proaktif dan efektif. Hanya dengan cara inilah krisis kekurangan pangan bisa ditekan dan kemandirian pangan lokal bisa dibangun.
Sumber Karbohidrat
Berdasarkan kandungan karbohidratnya, terigu memadai sebagai pengganti makanan pokok nasi. Karbohidrat merupakan simpanan energi bagi tumbuh-tumbuhan. Bagi manusia, karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi, bahan pembentuk berbagai senyawa tubuh, bahan pembentuk asam amino esensial, metabolisme normal lemak, menghemat protein, meningkatkan pertumbuhan bakteri usus, mempertahankan gerak usus (terutama serat), meningkatkan konsumsi protein, mineral, dan vitamin B. Pangan sumber karbohidrat adalah beras, ubi jalar, singkong, kentang, pisang, sagu, gandum.
a. Sifat Karbohidrat
Karbohidrat digolongkan dalam poli sakarida, disakarida dan mono sakarida. Monosakarida dan disakarida dikenal sebagai gula sederhana atau karbohidrat sederhana. Monosakarida penting di dalam pangan dan metabolisme tubuh adalah glukosa, fruktosa, galaktosa, dan mannose. Glukosa, fluktosa, dan galaktosa merupakan unit pembentukan disakarida. Polisakarida dikenal sebagai karbohidrat komplek seperti pati, selulosa, serat.
b. Jika dibakar dalam tubuh menghasilkan energi, CO2, dan air.
c. Beberapa karbohidrat dapat disentesa dalam tubuh dari lemak dan protein yang tersimpan dalam tubuh.
d. Karbohidrat dapat disimpan sedikit dalam tubuh, yaitu di dalam hati dan jaringan otot sebagai glikogen.
e. Jika sebagian besar karbohidrat yang diserap tubuh tidak segera digunakan maka akan diubah menjadi lemak dan disimpan sebagai jaringan lemak untuk memenuhi kebutuhan energi saat diperlukan nanti.
f. Biasanya bahan makanan yang kaya karbohidrat tampak berukuran besar dan sedikit sekali zat gizi lainnya (Yayuk Farida Baliwati dkk [Ed], 2006: 51).
Prospek dan Potensi Tepung Terigu
Sampai saat ini tepung terigu merupakan produk impor yang didatangkan dari Negara-negara subtropis seperti Amerika dan Australia. Biasanya terigu didatangkan masih berupa butiran biji gandum. Melalui proses pencucian, pengupasan sekam, penggilingan dan pemutihan (bleaching) maka jadilah tepung terigu seperti yang kita kenal.
Tepung terigu mengandung banyak protein. Kadar protein tinggi (hard wheat) kandungan proteinnya 11-13 %, terigu berprotein sedang (medium wheat) kandungan proteinnya 10-11% dan terigu berprotein rendah (soft wheat) kandungan proteinnya 8-9%.
Masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengkonsumsi tepung terigu yang diolah menjadi mie, roti, aneka kue, dll. Untuk itu pemerintah harus mencoba memberdayakan petani untuk menanam gandum sebagai bahan baku tepung terigu.
Selain itu memilih tepung terigu menjadi alternatif pangan pokok, ternyata masih mengalami kendala. Saat ini industri yang berbahan baku terigu, baik industri besar maupun industri kecil, serta konsumen rumah tangga yang sudah tergantung pada tepung terigu makin menjerit, karena harga tepung terigu yang terus melambung. Untuk menekan kenaikan tepung terigu, tentu bukan pekerjaan yang mudah, karena tepung terigu adalah produk impor yang ketergantungan dengan negara-negara pengekspornya cukup besar. Pemerintah harus bisa mengontrol dan menentukan harga tepung terigu dengan menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga importir tidak seenaknya menetapkan harga tepung terigu. Dengan adanya uji coba budi daya tanaman gandum, mengontrol dan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) tersebut ketergantungan terhadap impor tepung terigu bisa dikurangi sehingga nantinya tepung terigu bisa dijadikan sebagai sumber pangan alternatif non beras dan ketahanan pangan di Indonesia akan segera terwujud.